berkali-kali saya selalu memikirkan hal ini, “Kalau saya mati, selain tahlilan dan pengajian, apakah ada yang bakal merasakan kehilangan, mengenang kepergian saya, menjadikannya inspirasi dan selalu mengingat saya ketika mereka membicarakan hidup?”
sebenernya berkali-kali juga saya merenungkan arti hidup saya didunia. Citcy pernah bilang ke saya kalau seseorang hidup untuk memberikan inspirasi pada orang lain di sekitarnya. Lalu saya? saya kira orang-orang di sekitar saya bakal mendapatkan banyak sekali inspirasi dari orang lain, jika saya tidak ada.
saya nyoba baca The Purpose Driven Life dari Rick Warren sebagai bahan kontemplasi tentang hal ini, tapi dasar saya nggak disiplin. Saya baru sampai di hari ke 6 dan setelah itu tergoda oleh buku bacaan lain.
Pelajaran dari “enam hari bersama Rick Warren” itu adalah bahwa Tuhan sayang banget sama kita (saya juga sayang sama Dia) dan Dia nggak menciptakan manusia semau-mauNya, tapi ada maksud dan tujuannya. Oke, bukunya memang belum tuntas dibaca, tapi saya mencoba untuk menjawab pertanyaan itu sendiri, tanpa bantuan Rick.
hasilnya kok tetap so-so yah?!
kalau saya bercermin dan fokus pada kelebihan-kelebihan yang saya punya pun rasanya nggak besar-besar amat. saya berasal dari keluarga sederhana, tumbuh dengan “cara” biasa-biasa saja, udah besar berpenghasilan segitu-segitu saja, belum pernah berkontribusi pada lingkungan dengan menyumbangkan pikiran, tenaga dan (apalagi) dana yang besar.
Sifat saya bisa dibilang 55% jahat dan 45% baik. Lho kok bisa? karena saya merasa ketika sedang melakukan kebaikan, selalu ada pikiran jahat yang menyelusup ke dalam otak. belum, saya belum melakukan tindakan kriminalitas yang merugikan orang lain secara materi, tapi menurut saya justru kejahatan seharusnya paling berat hukumannya adalah, kejahatan yang diperbuat manusia dalam pikirannya. ampuni saya ya, Tuhan..
lalu, dengan sekian persen kadar kebaikan itu apa yang sudah saya perbuat untuk orang lain? rasanya nggak ada yang berarti.
nah, dalam fase ini beranikah saya berkoar bakal ada yang merindukan saya ketika saya sudah nggak lagi di bumi?!
Lalu, untuk apa saya dicemplungkan ke dunia melalui rahim ibu saya, dalam badan yang dialiri darah kotor ayah kandung saya dan hidup tanpa memberikan kontribusi yang berarti?
jika ada yang menjawab tujuannya adalah untuk melayani Tuhan, mengapa kita semua harus diturunkan ke bumi dan menjadi manusia yang belepotan dosa? kenapa nggak melayani Tuhan di surga saja, kan bisa ngobrol dan dekat dengan Tuhan setiap waktu.
atau jika alternatif jawabannya untuk memberikan manfaat bagi manusia, hmmm..silakan baca dari atas. oke saya mungkin terlalu naif atau apalah itu istilahnya. saya hanya merujuk pada diri sendiri untuk menjawab pertanyaan diatas, tapi ada berjuta-juta orang yang macemnya nggak beda jauh kayak saya. apa tuh yang bisa kami-kami ini lakukan? kalau dibandingkan sama kaum filantropis besar tentu nggak ada apa-apanya dan nggak ada ngaruhnya buat perdamaian dunia dan kesejahteraan umat. justru menurut saya, kaum yang sedang-sedang seperti saya ini yang manfaatnya nggak banyak. memberi sedekah sedikit nggak banyak juga nggak, dikasih sedekah juga nggak memenuhi syarat, nggak bisa ngasih orang pahala.
yang penting kan bukan jumlahnya? iya, memang. tentang pahala saya memang nggak tahu, itu urusan Tuhan, tapi yang saya soroti itu adalah dampaknya. ketika saya ngasih 500 sama pengemis, saya yakin dia bisa melanjutkan hidup tanpa tambahan uang 500 dari saya. karena banyak yang ngasih 1000. dan tentu yang pengemis ingat adalah siapa yang ngasih uang dengan jumlah yang paling besar. ibaratnya begitu.
aaahh..makin saya nulis, makin ngelantur dan makin bingung saya jadinya.
*kontemplasi sembari ngelantur