Fri 18 Sep 2009

salah satu film yang udah saya incer kalau tayang di bioskop adalah Gamer. Film ini dibintangi Gerard Butler dan Milo Ventimiglia. Filmnya sendiri bercerita tentang permainan di masa depan, dimana manusia bisa mengendalikan napi dari jarak jauh sehingga mirip permainan online perang-perangan. Gerard Butler berperan jadi Kable, salah satu napi yang dijadikan “pion” oleh anak baru gede bernama Simon yang diperankan Logan Lerman. nggak cuma Kable yang “dimainkan” oleh Simon, tapi banyak napi lain yang nasibnya bergantung pada kepiawaian si pemain game online.
sewaktu tau kalau saya dapat undangan preview untuk film ini di Blitz hari Senin, 14 September kemarin, saya seneng banget doonngg.. tapi ternyata saya batal hadir karena ada hal yang lebih penting. Namun ternyata acara Press Preview itu diundur menajdi hari Rabu, 16 September. Asyik banget kan, saya jadi bisa nonton gratisan buat film yang sebelumnya cuma bisa dinikmati lewat trailer-nya aja.
Tapiiiii…hari Selasa tanggal 15-nya saya dapat email dari pihak penyelenggara yaitu Jive Entertainment yang bilang kalau Press Preview film Gamer, DIBATALKAN! alasannya, karena film ini TIDAK LULUS SENSOR oleh LSF! wtf???!!!
saat itu juga saya ngerasa dongkol setengah idup baca notifikasi itu. saya sampe baca email itu berulang kali. bukan batalnya acara yang bikin saya dongkol, tapi karena alasan kenapa film ini nggak jadi ditayangkan. karena nggak lulus sensor, berarti saya nggak akan bisa nonton film ini, bahkan di bioskop sekalipun. (DVD bajakan nggak diitung ya, karena pasti saya beli bajakannya)
disitu saya mikir, apanya yang salah, filmnya? atau lembaga tukang “kebiri” itu? dari trailernya, saya lihat film ini memang film perang dimana pasti bakal banyak banget adegan baku hantam, darah, pembunuhan, bahasa kasar, dan segala kekejaman lain yang mungkin terjadi dalam sebuah film aksi berseting masa depan. Tapi, kalau yang saya lihat di trailer, filmnya nggak sebrutal itu kok, (i know i only seen the trailer not the whole movie, but still the trailer didn’t shows something wrong with the movie)
saya hanya nggak ngerti aja alasan kenapa film ini sampe nggak lulus sensor. lalu, apa kabarnya film SAW (yang sekarang udah masuk film ke 6)?? film itu lebih brutal dari film apapun yang pernah saya tonton. bahkan saya nggak pernah bisa nonton satu aja filmnya sampai habis.nggak tega.
kalau SAW aja bisa lolos (bahkan ditayangkan di TV), kenapa film ini nggak? kalau SAW masih kurang, mungkin kita bisa tanya kenapa KUTUNGGU JANDAMU yang ngumbar dada, paha dan adegan “nakal” bisa lolos??atau film-film dari produser india itu, yang selalu aja mencoba menutupi film “panas” a la tahun 80an dengan judul horor yang katanya lebih serem dari film horor sebelumnya tapi ternyata malah menyuguhkan adegan yang secara nggak sengaja menampilkan nipple salah satu “bintang”nya??!!
jadi, ada apa sama LEMBAGA SENSOR FILM kita?
kalaupun mau ada sensor, tentukan dulu batas-batas sensor yang bakal diterapkan di setiap film, supaya nggak bias dan kita juga jadi ngerti apakah memang satu film bener-bener disensor atau emang di ijinkan tayang padahal banyak adegan yang nggak pantas.
boleh kok mencontoh lembaga sensor amerika yang menerapkan usia minimum bagi penonton atau unsur apa aja yang ada di suatu film, yang sekiranya nggak pantas ditonton range umur tertentu. biar penonton dan orang tua yang akhirnya akan menentukan. tentunya pihak bioskop harus menjelaskan ke anak dibawah umur tentang alasan kenapa dia nggak boleh nonton film 17+. oke, saya tau saya terlalu idealis dan membuat ribet sistem yang uda berlaku sejak lama. Tapiii,,mau sampai kapan sih sistemnya berlangsung seperti ini?
saya mungkin memang masih bodoh tentang hal ini, saya hanya bicara sebagai penikmat film yang merasa kecewa, yang mungkin juga dialami penikmat film lain.
doh,,bener-bener amsyiong!!!
ps. ini nih trailernya
